Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I
Dosen Prodi Ekonomi Syariah
Tentang bagaimana Bitcoin diperlakukan, dalam paradigma ekonomi, serta diskursus publik soal teori zero-sum vs negative-sum game yang lagi ramai di media sosial, tulisan ini mencoba mendefinisikan ulang.
Apa itu Zero-Sum Game?
Zero-sum game adalah suatu kondisi ekonomi di mana keuntungan yang diperoleh X secara presisi sejumlah kerugian Y sehingga menghasilkan perubahan bersih sejumlah nol. Dalam konteks akademis ekonometris, hipotesis hubungan zero-sum antara X dan Y di tulis dengan persamaan ∑gains-∑looses=0. Konsep ini memiliki konsekuensi di mana keberhasilan dari satu pemain menjadi mutlak tak terpisahkan dengan kegagalan pemain lainnya sebagaimana pertandingan Tarik Tambang (keuntungan seseorang selalu berarti kerugian bagi pihak lain).
Persektif Zero-Sum vs Negative-Sume Game
Saat Bitcoin diperlakukan sebagai instrumen perdagangan spekulatif, maka tujuannya adalah pemanfaatan instabilitas harga sebagai modal untuk mencapai profit finansial. Pada skema tersebut, Bitcoin sebagai aktor dalam zero-sum game tengah memerankan dirinya menjadi aset bernilai intrinsik dengan tendensi cashflow fiat money dalam ekosistemnya. Artinya, harga bitcoin akan mengalami kenaikan apabila terjadi pergerakan arus jumlah fiat money yang masuk melebihi yang keluar, begitupun sebaliknya. Ilustrasi mekanisme zero-sum sangat mirip jika kita analogi-kan dengan konsep trading jangka pendek pada instrumen keuangan tradisional seperti saham atau komoditas emas.
Tapi kemudian muncul argumen bantahan yang menyatakan bahwa bitcoin bukanlah zero sum karena ada biaya produksi pada aktvitas mining dan konsumsi energi. Namun, pendapat ini sebenarnya mengarah pada pernyataan bahwa Bitcoin adalah negative-sum. Sebab, biaya produksi justru meniadakan karakteristik zero-sum, karena dalam skema negative-sum inklusi biaya produksi sama artinya dengan jumlah total kerugian kolektif melebihi total keuntungan yang disebabkan oleh terkurasnya biaya operasional dalam sistem secara keseluruhan.
Analogi zero-sum vs negative-sum sama dengan satu buah kue ulang tahun (nilai total). Jika A makan sepotong kue, sedangkan B kehilangan sepotong dari kue yang sama maka ini zero-sum karena dalam konteks bitcoin untuk perdagangan spekulatif, saat A diuntungkan karena kenaikan harga, hal ini pasti disebabkan karena ada kerugian orang lain. Misalnya, karena ada orang jual aset saat harga turun atau orang yang beli saat harga tinggi kemudian turun. Tapi tetap saja, jumlah bitcoin akan tetap 21 juta koin. Artinya nilai total pasar tetaplah sama hanya saja berpindah tempat dari wallet ke wallet.
Jika sebelum dimakan A dan B, satu buah kue berlubang karena dimakan tikus, maka ini negative-sum, sebab jumlah total akan berkurang karena ulah si tikus. Lubang kue itulah analogi biaya produksi. Meski A dan B membagi rata sisa kuenya, faktanya jumlah kue berkurang (minus) walaupun terlihat seperti zero-sum.
Bitcoin: Lampauan Perspektif
Sayangnya, game theory saja tidak cukup dalam mengcover definisi bitcoin, dia memiliki dimensi lebih luas dari sekedar arena untung-rugi ataupun menang kalah. Berikut di antaranya:
Store of Value
Pada negara yang memiliki Riwayat ketidakstabilan moneter hiperinflasi, seperti Venezuela dan Argentina, kemudian ada juga negara kita tercinta Indonesia dengan Riwayat krisis global 2008 dan pandemi Covid 19, di mana saat itu terjadi skema burden sharing atau penciptaan uang skala masif. Secara otomatis, publik memiliki memori kolektif kemudian membangun defense mechanism finansial melalui utilitas Bitcoin sebagai bentuk perlawanan terhadap depresiasi mata uang. Bitcoin alih fungsi menjadi aset penyimpan nilai untuk menyelamatkan seseorang dari kemiskinan. Dalam kasus ini, Bitcoin tidak lagi sebagai aktor penghasil profit melainkan sebagai pahlawan pembela kelestarian daya beli sekaligus pelindung aset dari erosi nilai mata uang setempat di Tengah carut marut kondisi geopolitik.
Medium of Exchange
Ketika Bitcoin dimanfaatkan untuk alat tukar lintas batas sebagai alternatif sistem pengiriman uang tradisional yang dinilai terbatas yurisdiksi, ia justru menunjukkan karakteristiknya sebagai Medium of Echange yang efisien atas kecepatan dan praktisnya. Pada skema ini, Bitcoin dipandang sebagai sistem atau infrastruktur yang memfasilitasi pertukaran, bukan semata-mata instrumen untuk compounding return fidusia. Terlepas dari adanya gas fee sebagai insentif bagi para miner atas sumber daya komputasi yang mereka sediakan dalam menjaga integritas Blockchain.
Kesimpulan
Mengkategorikan Bitcoin sebagai zero-sum atau negative-sume game sangat tergantung pada bagaimana individu memperlakukan market. Penggunaan model ekonometris dalam tulisan ini ditekankan sebagai bentuk pendekatan agar lebih presisi dalam menganalisis fenomena Bitcoin guna meminimalisir bias subjektif pada suatu dialog. Mengklaim bahwa Bitcoin bukan zero-sum game hanya berdasarkan biaya produksi justru akan membentuk sebuah misinterpretasi yang dapat berpengaruh kontrapoduktif dalam memahami adopsi kripto secara menyeluruh. Karena dalam aturan mainnya biaya produksi justru memenuhi skema negative-sum.