Review Hasil Diskusi Pra-Sekolah Islam dan Gender PMII Komisariat INAIFAS
Oleh : Habib Aziz Ar Rozi & Vitayatul Mukarromah
Dalam diskuisi ini kita diajak untuk memahami apa itu seks, gender, seksualitas, identitas gender, ekspresi gender, orientasi seksual, dan identitas seksual. Pada intinya, sahabat diajak untuk membedakan apa itu seks (mengacu kepada perbedaan biologis manusia dilihat dari alat reproduksi dan kromosomnya) dengan gender (pembedan sifat, peran, dan posisi antara laki-laki, perempuan, transgender yang dipengaruhi oleh berbagai pranata sosial dan merupakan sebuah konstruksi yang dapat dipertukarkan dan dipersilangkan).
Lebih dalam lagi, sahabat juga diajak memahami apa itu identitas gender (bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki, perempuan, transgender?), ekspresi gender (bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya, apakah maskulin, feminin, androgini?). Kemudian juga membedakan orientasi seksual (kepada jenis kelamin/gender mana seseorang tertarik) dengan identitas seksual (bagaimana seseorang mengidetifikasi dirinya sehubungan dengan orientasi mereka, apakah gay, lesbian, biseksual?)
Diskusi dan Pembahasan
Seks adalah alat kelamin, mengacu pada sifat-sifat biologis yanh secara kasat mata berbentuk fisik yang mendefinisikan manusia sebagai laki-laki, perempuan dan atau interseks.
Seksualitas merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia sepanjang hidupnya yang berkaitan dengan jenis kelaminnya. Seksualitas dialami dan diungkapkan dalam pikiran, khayalan, gairah, kepercayaan, sikap, nilai, perilaku, perbuatan, peran dan hubungan.
Sederhananya, seksualitas ialah lebih dari sekedar perbuatan seksual atau siapa melakukan apa dengan siapa.
Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender itu berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.
SOGI atau SOGIESC adalah konsep pemahaman mengenai ketubuhan, orientasi seksual, dan gender, yang dibuat agar dapat membuka pikiran masyarakat secara lebih luas. Konsep ini berlatar belakang pada banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi karena masyarakat masih belum mampu menerima keberagaman, baik itu keberagaman gender, maupun orientasi seksual.
Ada banyak diskriminasi, persekusi, bahkan kekerasan terhadap orang-orang yang memiliki orientasi seksual berbeda. Konstruksi budaya juga membuat masyarakat memiliki pemikiran yang sempit.
Inilah heteronormativitas; norma-norma yang menyatakan bahwa seseorang dianggap normal hanya jika memiliki orientasi heteroseksual. Seseorang yang heteronormatif mengasumsikan bahwa heteroseksualitas adalah satu-satunya orientasi dan satu-satunya norma.
SO (sexual orientation):
Ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin tertentu. Beberapa contoh orientasi seksual:
- Heteroseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang berbeda.
- Homoseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang sama. Misalnya, GAY adalah laki-laki yang tertarik pada sesama laki-laki, dan LESBIAN adalah perempuan yang tertarik pada sesama perempuan.
- Aseksual: Seseorang yang tidak memiliki ketertarikan, tetapi tidak memungkiri bahwa seorang yang aseksual bisa saja memiliki ketertarikan secara fisik saja, atau emosi saja, atau bahkan sexual saja, tidak ada patokan yang resmi karena berbicara mengenai otoritas seseorang itu sendiri.
- Biseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada laki-laki dan perempuan.
- Panseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin. Seorang yang panseksual dapat memiliki ketertarikan dengan sesama laki-laki, sesama perempuan, maupun keduanya, kepada transgender, maupun interseks.
- Demiseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin apapun, akan tetapi melibatkan emosi yang sangat kuat dan membutuhkan waktu yang lama untuk membangun hubungan emosional dengan seseorang.
GI (gender identity):
Bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai gender tertentu. Perlu dicatat bahwa ini adalah otoritas pribadi setiap orang. Kita tidak bisa memaksakan seorang yang fisiknya nampak seperti laki-laki sebagai laki-laki jika dia ingin mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Begitupun sebaliknya. Ada orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai transgender, bahkan ada juga orang yang tidak ingin mengidentifikasi dirinya baik sebagai laki-laki, perempuan, maupun transgender. Mereka seringkali disebut sebagai “QUEER”
E (expression):
Mengenai bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya Maskulin, Feminin
Androgini (memiliki tampilan luar maskulin dan feminin sekaligus, atau berganti-ganti sesuai suasana hatinya)
SC (sex characteristic):
Karakteristik seksual setiap orang. Poin ini berkaitan dengan kromosom, gonad, dan biologi. Ketika bayi baru lahir, biasanya seorang dokter akan langsung menentukan gender bayi tersebut berdasarkan karakteristik kelaminnya, namun mengesampingkan jumlah kromosom, gonad, dsb. Ini akan berdampak pada anak tersebut ketika memasuki usia dewasa. Anak yang seharusnya laki-laki dapat saja menunjukkan tanda-tanda tumbuh payudara, atau mengalami menstruasi, ketika ia memasuki usia remaja. Kondisi seperti ini disebut interseks.
Seorang interseks adalah orang yang lahir dengan variasi karakteristik seks seperti kromosom, kelenjar kelamin, hormon, atau organ genitalia yang tidak padan dengan definisi umum mengenai laki-laki atau perempuan. Ketidaktahuan mengenai karakteristik seksual akan sangat berdampak pada seorang interseks. Di luar negeri, seorang interseks dapat menentukan sendiri jenis kelamin yang di inginkannya, tentu saja yang sesuai dengan karakteristik seksualnya.
Konklusi
Dengan demikian kita dapat mengenal apa LGBTIQ itu. LGBTIQ merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Transseksual, Intersex, Queer, dan Questioning. Penting untuk ditekankan bahwa keragaman identitas seksual dan gender bukanlah sesuatu yang salah dari segi kesehatan. Sejak tahun 1990-an, World Health Organization (WHO) telah mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa. Kementrian Kesehatan RI pun mengikuti hal tersebut dengan dicabut dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Dengan demikian homoseksualitas merupakan varian biasa dari seksualitas manusia.
Hanya saja memang dalam masyarakat kita, heteronormativitas masih diyakini sebagai sesuatu yang paling benar. Misalnya saja, ketika seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir, ia diharapkan kelak menjadi laki-laki yang maskulin dan tertarik kepada perempuan. Begitu pula ketika seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir, ia diharapkan kelak menjadi perempuan yang feminin dan tertarik kepada laki-laki. Bagaimana dengan bayi yang lahir dengan identifikasi jenis kelamin yang tidak jelas (padahal interseks)? Akan menjadi masalah tersendiri. Bagaimana jika anak laki-laki itu kemudian menyukai sesama laki-laki, atau anak perempuan itu kemudian lebih nyaman dengan sifat maskulin?
Inilah sebabnya mengapa ketika manusia lahir, pada dasarnya yang dapat kita identifikasi adalah jenis kelaminnya. Seksnya. Kita tidak dapat memastikan, dan bahkan tak berhak menentukan, orientasi seksualnya maupun identitas gendernya. Adalah merupakan hak bagi setiap orang untuk menentukan identitas gender dan seksualnya, dan konsep ini perlu dipahami secara komprehensif dalam lingkup pemenuhan hak asasi manusia.
Demikian review sederhana ini, semoga mampu memantik terhadap pemahaman dan kejernihan berpikir sahabat-sahabati. Jika ingin lebih mendalam memahaminya, sebaiknya perbanyak referensi yang lain kemudian rajin mendiskusikannya dan berpartisipasi dalam Sekolah Islam dan Gender jilid III bulan Januari 2022 nanti.
Kontributor : PMII INAIFAS
Foto : Gatra.com
Glosarium Gender. Mengutip dari laman ; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Peran Gender
Peran Gender adalah perilaku yang dipelajari di dalam suatu masyarakat/komunitas yang dikondisikan bahwa kegiatan, tugas-tugas atau tanggung jawab patut diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat berubah, dan dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran ganda di dalam masyarakat. Perempuan kerap mempunyai peran dalam mengatur reproduksi, produksi dan kemasyarakatan. Laki-laki lebih terfokus pada produksi dan politik kemasyarakatan.
Peran Produksi
Peran produksi adalah kegiatan yang dilakukan baik oleh laki-laki dan perempuan agar supaya menghasilkan barang dan layanan untuk diperdagangkan, dipertukarkan atau memenuhi nafkah bagi keluarga. Sebagai contoh di pertanian, kegiatan produksi termasuk penanaman, penyiangan, peternakan.
Peran Reproduksi
Peran Reproduksi adalah aktivitas untuk menjamin reproduksi angkatan kerja. Hal ini termasuk pembatasan anak, penjarangan anak, perawatan terhadap anggota keluarga seperti orang tua, anak-anak dan pekerja. Tugas-tugas tersebut umumnya tidak mendapatkan upah dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.
Peran Masyarakat
Peran masyarakat adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tingkat masyarakat untuk menjamin ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya yang terbatas seperti air, perawatan kesehatan dan pendidikan. Pekerjaan ini biasanya tidak dibayar dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.
Peran Politik Perempuan
Peran politik perempuan adalah kegiatan-kegiatan di tingkat masyarakat, mengorganisir di tingkatan formal politik, sering kali dalam kerangka kerja politik nasional. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh pria, dan biasanya dibayar secara langsung (uang) atau tidak langsung (meningkatnya kekuasaan dan status).
Beban Ganda
Beban ganda merujuk kepada kenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikit harinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalam tiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran di masyarakat.
Sex
Sex adalah perbedaan-perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan . Contoh: perempuan dapat melahirkan, laki-laki memproduksi sperma
Gender
Gender adalah hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender merujuk pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagaimana hubungan sosial ini dikonstruksikan. Peran gender bersifat dinamis dan berubah antar waktu.
Kesetaraan Gender
Kesetaraan Gender adalah hasil dari ketiadaan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atas dasar kesempatan, alokasi sumber daya atau manfaat dan akses terhadap pelayanan.
Pengarusutamaan Gender
Pengarusutamaan Gender adalah proses untuk menjamin perempuan dan laki-laki mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya, memperoleh manfaat pembangunan dan pengambilan keputusan yang sama di semua tahapan proses pembangunan dan seluruh proyek, program dan kebijakan pemerintah.
Kesadaran Gender
Kesadaran Gender adalah suatu pengertian bahwa ada faktor-faktor sosial yang menentukan antara laki-laki dan perempuan atas dasar tingkah laku, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses dan mengontrol sumber daya. Kesadaran ini membutuhkan penerapan melalui analisa gender menjadi proyek, program dan kegiatan
Analisa Gender
Analisa Gender adalah metodologi untuk pengumpulan dan pengolahan informasi tentang gender. Analisa gender membutuhkan data terpilah berdasarkan jenis kelamin dan suatu pengertian dari konstruksi sosial dari peran gender, bagaimana pembagian kerja dan dinilai. Analisa gender adalah proses dari analisa informasi agar supaya menjamin manfaat dan sumberdaya pembangunan secara efektif dan adil ditujukan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Analisa Gender digunakan juga untuk mengantisipasi dan menolak akibat negatif dari pembangunan yang mungkin terjadi pada perempuan atau karena relasi gender. Analisa gender dilakukan menggunakan bermacam alat dan kerangka kerja.
Perencanaan Gender Perencanaan Gender (atau Perencanaan yang sensititif Gender) adalah proses dari perencanaan program-program dan proyek-proyek pembangunan yang sensitif gender dan dimana mempertimbangkan impact dari peran gender dan kebutuhan gender dari laki-laki dan perempuan di dalam sasaran masyarakat atau sektor.