Islam dan Cara Penyampaian Ajarannya

Oleh: Muhammad Iqbal Harimi, S.Pd.I
(Mahasiswa Pascasarjana INAIFAS)

“Islam itu agama yang baik, dan harus dibawa oleh orang yang baik. Jika ajaran Islam dipandang dengan citra yang tidak baik, berarti dikampanyekan oleh orang yang salah“.

Demikian sejekumit petikan materi yang disampaikan KH. Khairuzzad Maddah dalam acara Orientasi Studi Mahasiswa Baru Pascasarjana INAIFAS, Sabtu, 02/10 siang tadi.

Suatu kebaikan jika dikerjakan oleh orang yang tidak tepat justru berujung kekeliruan. Misalnya sedekah itu sunnah, namun jika dipraktikkan oleh pengedar narkoba dengan menggratiskan paket sabunya maka ini akan menjadi petaka.

Lebih lanjut KH. Khoiruzzad Maddah menjelaskan bahwa kedatangan Islam sejak terutusnya Nabi Muhammad dapat merubah dunia hanya dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun, singkat sekali.

“Ini kan capaian yang sangat luar biasa, hanya dalam tempo 23 tahun itu Nabi mampu merombak kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan yang penuh dengan nilai keislaman”, terang Gus Ya’, sapaan akrab KH. Khoiruzzad Maddah itu.

Di masa jahiliyah perbuatan judi, mabuk-mabukan dan semacamnya sudah sangat mengakar menjadi kebiasaan mereka. Kebiasaan ini masih berlangsung hingga permulaan Islam, Hingga turun wahyu QS. An Nahl: 67. Namun dalam ayat ini belum menjelaskan larangan ’khamr’.

Karena masih belum diharamkan, suatu ketika Abdurrahman bin Auf mengundang sahabat lain ke rumahnya untuk makan-makan dan disiapkannya ‘khamr’. Masih dalam keadaan mabuk masuklah waktu maghrib, hingga mereka memutuskan shalat dan salah satu diantaranya maju menjadi imam. Setelah membaca fatihah, si imam ini membaca surat Al Kafirun, namun karena dalam keadaan mabuk, sesampainya di ayat kedua sang imam membaca ayat tersebut dengan bacaan:
أعبد ما تعبدون
yang seharusnya adalah:
لا أعبد ما تعبدون
Hal ini menjadi fatal. Sehingga turunlah QS. An Nisa’: 43, tentang larangan shalat dalam keadaan mabuk.

Baca juga  Euforia Sidang Skripsi : Catatan Menjelang Wisuda

Turunnya ayat di atas mengubah waktu minum ‘khamr’ setelah isya, karena menurut mereka efek mabuk akan hilang saat subuh. Suatu malam ‘Utban bin Malik mengajak kaum muslimin termasuk Sa’ad bin Abi Waqos memanggang kepala unta disertai minum ‘khamr’. Dipertengahan perkumpulan tersebut dalam keadaan mabuk mereka saling ejek kaum satu dengan yang lain hingga terjadi pertikaian yang berujung atas terlukanya kepala Sa’ad.

Sebab kejadian di atas Allah menurunkan wahyu QS. Al Maidah: 90
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Ayat tersebut adalah ayat ke 4 sekaligus ayat terakhir yang menjelaskan tentang ‘khamr’ dan menjadi ayat yang secara tegas mengharamkannya, sehingga para sahabat benar-benar menghentikan kebiasaan tersebut.

“Artinya, ini menunjukkan bahwa cara Rasulullah membawa Islam itu dengan berbagai tahapan pendekatan, tidak serta merta langsung mendatangi sahabat dan mengharamkannya.” jelas Gus Ya’ kembali.

Kisah tersebut mencerminkan tentang metode Nabi yang hendak merubah kebiasaan buruk sahabatnya dengan langkah per langkah dan masuk ke wilayah mereka terlebih dulu. Hingga kemudian turun ayat secara tegas yang melarang.

Peristiwa lain cara Nabi merubah kebiasan buruk jahiliyah adalah adanya tradisi aqiqah. Saat itu darah sembelihan kambing oleh orang jahiliyah dilumurkan ke kepala bayi. Namun tradisi pengusapan darah ini dapat diubah dengan mengusapkan wewangian seperti minyak za’faron dan semacamnya, tanpa menghapuskan tradisi penyembelihan kambing.

Kesuksesan perjuangan Nabi tidak hanya bertumpu pada metode dan model yang diterapkan dalam penyebarannya, namun sosok pribadi pembawanya sangat berpengaruh besar untuk diterima orang, baik dari sisi gagasan, kecerdasan, ketegasan dan tingkah lakunya yang menjadi panutan.

Baca juga  Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Indonesia merupakan negara termasyhur penganut Islam terbesar di dunia, mayoritas menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagaimana bisa Aswaja dapat membumi di Nusantara?.

“Tentu ini tidak lepas dari cara wali 9 dan ulama dalam memahamkan agama kepada masyarakat, sehingga mudah diterima dengan baik.” Tegas Gus Ya’.

Sebagaimana Nabi Muhammad, sebagai pewarisnya, ulama lebih menekankan suri tauladan kepada masyarakat dengan menunjukkan pribadi panutan, sehingga nasehat dan petuahnya dapat menembus hati pendengarnya.

Di akhir penyampainnya, Gus Ya’ mengisahkan tentang kegelisahan seorang bapak melihat anaknya yang kecanduan permen (gula-gula), sang ayah memutuskan untuk sowan (mendatangi) Kiai Kholil Bangkalan, seorang ulama besar guru dari para ulama di Indonesia.

Sesampainya bapak dan anak ini di rumah Kiai Kholil, sang bapak mengutarakan maksud kedatangannya kepada Kiai Kholil memohon doa (suwuk) agar anaknya berhenti kecanduan permen.

“Baiklah, anda silahkan kembali ke sini tiga hari lagi ya.” pesan Kiai Kholil.

“Tidak jadi disuwuk hari ini Kiai?” tanya si bapak.

“Tidak, kembali lagi tiga hari nanti sama anakmu ya.” jawan Kiai Kholil.

Tiga kemudian sesuai petuah sang kiai, pasangan bapak dan anak ini kembali ke rumah Kiai Kholil. Kiai Kholil segera mendoakan dan sesekali mengajak anak tersebut bercengkrama layaknya bercanda dengan cucunya. Tak lupa, sang kiai juga menasihati agar anak itu berhenti mengonsumsi permen. Si ayah kelihatannya gelisah, mau minta suwuk air kok nyatanya hanya dinasihati. Kalau sekedar nasihat dirinya sudah melakukan setiap hari.

“Sampeyan tahu pak, kenapa aku meminta kembali lagi ke sini setelah tiga hari?” tanya Kiai Kholil tiba-tiba, seakan mengerti kegelisahan tamunya itu.

Sang tamu tersebut menggeleng sembari berkata “tidak”

Baca juga  PERTIWI BELUM KEMBALI PADA PRIBUMI

“Aku harus mengatur diriku sendiri terlebih dulu dengan berpuasa mengonsumsi makanan yang manis-manis selama tiga hari sebelum menasihati putramu. Ini agar nasihatku diterima dan dipercaya anakmu.” jawab Kiai Kholil.*

Nampaknya perilaku seperti Kiai Kholil inilah yang menyebabkan Islam dan petuah-petuah agama dapat diterima dengan baik oleh masyarakat hingga Islam membumi di Nusantara ini.

*Kisah terakhir tentang Kiai Kholil ini diambil dari bukunya Gus Rijal Mumazziq Z yang berjudul “Kiai Kantong Bolong.”

Penulis

Berita Terkini

Scroll to Top