
Kencong, Jember – Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, besarnya jumlah penduduk Muslim tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat penggunaan layanan perbankan syariah. Fenomena ini menjadi sorotan dalam kuliah umum Ekonomi Syariah yang menghadirkan Area Mikro BSI Kencong Jember, Dwi Widodo, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Dwi Widodo menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar aset perbankan syariah di kawasan Asia-Pasifik. Meski demikian, penetrasi perbankan syariah di dalam negeri masih tergolong rendah dibandingkan beberapa negara Muslim lainnya.
“Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi pangsa pasar perbankan syariahnya masih relatif kecil. Ini menjadi sebuah paradoks yang menarik untuk dikaji,” ujarnya.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 242 juta penduduk Muslim atau sekitar 87 persen dari total populasi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Pakistan, India, Bangladesh, hingga Turki. Namun, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia masih berada di kisaran 7 persen, jauh di bawah Arab Saudi yang mencapai 63 persen, Malaysia 30 persen, Uni Emirat Arab 24 persen, dan Pakistan 20 persen.
Menurut Dwi, perkembangan perbankan syariah di Indonesia sebenarnya menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) sejak tahun 2021 menjadi salah satu momentum penting yang mendorong peningkatan pangsa pasar industri keuangan syariah nasional.
Ia menjelaskan bahwa setelah merger tiga bank syariah milik negara menjadi BSI, terjadi peningkatan baik dari sisi pembiayaan maupun penghimpunan dana pihak ketiga. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah terus tumbuh.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Rendahnya literasi keuangan syariah, dominasi bank konvensional yang telah lebih dahulu mengakar, serta persepsi masyarakat terhadap layanan syariah menjadi faktor yang memengaruhi tingkat adopsi perbankan syariah.
Melalui kuliah umum tersebut, Dwi berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep ekonomi syariah secara teoritis, tetapi juga mampu melihat berbagai tantangan dan peluang pengembangannya di Indonesia.
“Potensi pasar perbankan syariah Indonesia sangat besar. Karena itu diperlukan inovasi, edukasi, dan peningkatan literasi agar masyarakat semakin memahami nilai dan manfaat yang ditawarkan oleh sistem keuangan syariah,” pungkasnya.
Kuliah umum ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami dinamika industri perbankan syariah sekaligus mengkaji mengapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan penggunaan layanan keuangan syariah.