6 Mei 2020

Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Takashi Shiraishi, peneliti Jepang itu, menyebut era 1910 hingga dasawarsa berikutnya sebagai Zaman Bergerak. Ketika kaum pribumi bersemangat menghimpun diri, memamahbiak ide-ide progresif, hingga keaktifan berserikat. Soal kepanduan, alias Pramuka, yang hari ini diperingati hari lahirnya, organisasi Islam Indonesia punya sejarah yang khas. Ketika kepanduan mulai tumbuh […]

Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa Read More »

Setelah Mbah Hasyim Asy’ari, Sang Putra Zaman adalah Mbah Moen

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Dalam ceramahnya, KH. Maimoen Zubair menjelaskan sosok KH. M. Hasyim Asy’ari sembari mengutip maqalah al-Insan Abna-uz Zaman, manusia adalah anak zamannya. Menurut beliau, pendiri NU itu layak dijuluki sebagai abna-uz zaman. Mengapa? Sebab, di eranya, nyaris semua ulama di Jawa dan Madura terkoneksi dengannya. Bahkan, tidak ada ceritanya seorang menjadi

Setelah Mbah Hasyim Asy’ari, Sang Putra Zaman adalah Mbah Moen Read More »

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Ketika mencari TK, lalu MI untuk menyekolahkan Avisa Aurora Baldatina, anak sulung, mula-mula saya cari sekolahan yang secara ideologis, harakah dan amaliah-ilmiah berkaitan dengan prinsip dasar keislaman versi saya: Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. Sebab, ada beberapa sekolah yang mengajarkan ayat-ayat qital (perang) kepada anak didiknya yang belum

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak Read More »

Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Mencermati pemikiran Sukarno tentang Islam, menurut saya harus dibagi dalam tiga fase: 1925-1945, 1945-1955, hingga 1955-1967. Ini kalau diurut secara kronologis: Sukarno Muda, Sukarno Bapak Bangsa, dan Sukarno Ideolog Bangsa Pasca Pemilu/Nasakom. Dalam hal keislaman-kebangsaan serta gaya orasi, Sukarno muda terpengaruh kakek buyut Maia Estianti, HOS. Tjokroaminoto;

Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam Read More »

Mengenal Para Mufassir Indonesia

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Tersebutlah nama Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara. Gadis ini selalu berminat menyimak pengajian tafsir yang disampaikan KH. Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani, guru para ulama di penghujung abad XIX. Bahkan, saking antusiasnya, Kartini mengikuti pengajian Kiai Soleh hingga ke Demak. Dalam suatu pengajian yang dihelat di

Mengenal Para Mufassir Indonesia Read More »

Kitab Tafsir Terbitan Muhammadiyah di Kantor NU

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Di rak perpustakaan PCNU Surabaya banyak berjejal kitab lawas. Sebagian besar merupakan peninggalan KH. Khusaini Tiway, salah seorang pendiri dan penggerak GP Ansor. Siapa Kiai Khusaini? Beliau ini dulunya juga merupakan salah satu komandan Laskar Hizbullah di era revolusi fisik. Namun, setelah kondisi Indonesia tenang beliau kembali

Kitab Tafsir Terbitan Muhammadiyah di Kantor NU Read More »

Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan

Oleh : Rijal Mumazziq  (Rektor INAIFAS Kencong Jember) “Kang, kemarin saya mampir ke makam Mbah Kerto.” kata Gus Dur kepada Muhammad AS. Hikam. Hikam yang asal Tuban Jawa Timur itu bertanya antusias,  “Mbah Kerto itu siapa, Gus?” “Loh, masak sampean ndak tahu. Itu makam yang di Bandungrejo, deket rumah sampean di Plumpang, Tuban.” “Wah, saya malah nggak tahu Gus

Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan Read More »

Cara Gus Dur Mempromosikan Gus Mus

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Rumah Almarhum Kiai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan rumah Gus Mus tidak bisa dibilang jauh. Daerahnya bersebalahan. Kiai Sahal di Pati. Sementara Gus Mus di Rembang. Tapi yang membuat dua kiai hebat ini bertemu, berkenalan lalu menjadi karibnya, adalah Gus Dur, seorang yang tinggalnya lumayan jauh dari

Cara Gus Dur Mempromosikan Gus Mus Read More »

Cara Gus Dur Mempromosikan Kiai

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Tahun 1980an, beberapa kiai sempat menjuluki Gus Dur sebagai “kiai ketoprak”. Julukan itu dilontarkan lantaran gaya Gus Dur slenge’an kayak seniman, akrab juga dengan seniman, menjadi dewan juri Festifal Film Indonesia, fasih bercerita wayang, paham seluk beluk ludruk, kesenian asli Jawa Timur tersebut. “Kiai kok begitu,” kira-kira itulah keluhan

Cara Gus Dur Mempromosikan Kiai Read More »

Warisan Kuliner Para Habaib

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember) Ada lelucon begini di kalangan para pendakwah Islam Nusantara, “Ana, Antum, Afwan, Akhi, kita tolak, sebagai bahasa sehar-hari. Sebab, kita punya bahasa ibu sendiri, kecuali yang sudah diserap bahasa Indonesia. Tapi nasi Biryani lengkap dengan kepala kambing kita telan sehabis-habisnya. Itulah namanya akulturasi.” Tentu itu sekedar lelucon.

Warisan Kuliner Para Habaib Read More »

Scroll to Top